≡ Menu

Perbandingan Budaya Indonesia vs Jepang

Jepang merupakan salah satu Negara yang cukup menarik bagi masyarakat Indonesia. Hal itu tidak terlepas dari pop culture Jepang (musik, film, fashion) yang sangat mudah diserap oleh orang Indonesia, membuat mereka merasa memiliki keterikatan secara emosional. Nah, hal inilah yang kemudian membuat banyak masyarakat Indonesia tertarik untuk mempelajari budaya Jepang.

Lalu bagaimana jika budaya Jepang kita bandingkan dengan budaya Indonesia? apa saja manfaat yang bisa kita dapatkan dari hal unik dan menarik kedua budaya ini?

Budaya Indonesia vs Jepang

Budaya merupakan kristalisasi dari nilai-nilai dan pola hidup yang dianut oleh suatu komunitas. Setiap budaya di dalam komunitas tumbuh dan berkembang dengan caranya masing-masing, membuatnya menjadi unik akibat adanya perbedaan pola hidup.

Untuk melihat perbandingan budaya antara Indonesia dan Jepang, terdapat kesulitan tersendiri mengingat kedua bangsa tersebut memiliki perbedaan karakteristik yang sangat mencolok. Bangsa Jepang tergolong homogen dengan 15 bahasa (bukan 15 suku bangsa, karena bahasa tersebut sudah termasuk bahasa untuk tuna rungu) serta memiliki sejarah yang sangat panjang sehingga nilai-nilai budaya sangat mengkristal.

Sementara itu, bangsa Indonesia tergolong heterogen, memiliki lebih dari 700 bahasa dan multi etnik, sehingga sulit untuk mencari serpihan budaya yang bisa mewakili Indonesia secara utuh. Artinya, kita perlu memisahkan nilai dan pola yang bisa diterima secara nasional, serta mana yang merupakan karakter dari sebuah suku.

Jadi, jangan heran jika saat kamu berkunjung ke Jepang, kamu akan merasa bingung, kaget, dan memiiki emosi yang berkecamuk saat melihat kebiasaan dan budaya mereka. Hal ini disebut dengan culture shock atau gegar budaya.

Situasi inilah yang kemudian membuat banyak orang Indonesia sulit untuk beradaptasi dan berasimilasi dengan budaya Jepang, membuat mereka akhirnya senang membuat perbandingan-perbandingan dengan apa yang terjadi di negaranya sendiri

Nah, lewat beragam referensi, kami mencoba untuk mengumpulkan data yang bisa menggambarkan perbedaan budaya Indonesia dan Jepang dalam skala yang lebih umum. Berikut diantaranya:

Agama / Religi

Secara umum, masyarakat Jepang menerjemahkan agama atau Tuhan sebagai hal yang terpisah. Bagi mereka, agama adalah hal yang bersifat pribadi dan tak ada satupun yang bisa mengusiknya. Bagi masyarakat Jepang, topik agama adalah hal yang tabu untuk dibicarakan dalam interaksi sosial, hal yang tentu saja berbeda dengan orang Indonesia.

agama di jepang

agama di jepang

Di Indonesia, ada kebiasaan sosial yang sering memisahkan seseorang atau kelompok-kelompok tertentu berdasarkan agamanya. Apalagi di Indonesia agama adalah hal yang sangat berpengaruh, sering dijadikan alat untuk mencapai sebuah ambisi tertentu.

Jika di Indonesia sering terjadi perang antar agama, di mana minoritas sering menjadi korban, hal ini justru tak terlihat di Jepang. Kenapa? Karena bagi mereka, agama ada di ranah privat, layaknya (maaf) alat kelamin. Mereka tidak dibebani oleh rasa untuk mengekspos kepercayaan atau menyerang kepercayaan orang lain.

Jadi, saat kamu ke Jepang, jangan pernah membicarakan atau menanyakan agama mereka. Pasalnya, hal seperti ini akan membuatnya merasa terusik, menganggap kamu sebagai orang yang sangat selektif dalam memilih teman.

Siapa yang Paling Menghargai Waktu?

Tanpa bermaksud menjelek-jelekkan budaya sendiri, namun harus diakui bahwa bangsa Jepang lebih unggul dalam konteks kedisiplinan. Mereka tidak mengenal istilah “Jam Karet”. Saat mereka membuat janji dan ternyata terlambat, walaupun hanya 5 menit, mereka akan merasa sangat bersalah dan tak henti-hentinya meminta maaf.

Hal yang justru berkebalikan di Indonesia, di mana tanpa disadari kebiasaan tidak tepat waktu sudah menjadi budaya. Lihat saja bagaimana banyak diantara kita yang tidak peduli saat datang terlambat ke sekolah, kampus, kantor, atau ke manapun. Dan, tidak ada rasa bersalah akan hal tersebut.

Perbedaan budaya yang kontras ini sangat berkaitan dengan tingginya standar dan kebutuhan hidup di kedua Negara. Di Jepang, kebutuhan hidup sangatlah tinggi, sehingga mereka sudah menganggap waktu sebagai uang. Belum lagi tingkat persaingan dan tututan kerja yang teramat tinggi, membuat mereka sangat menghargai waktu. Bahkan jika memungkinkan, mereka siap untuk menjadikan sehari itu sebanyak 25 jam.

Sebaliknya, persaingan yang tidak terlalu tinggi (jika dibandingkan dengan Jepang) serta kebiasaan akan “semua bisa diatur” membuat orang Indonesia akhirnya sangat mudah melakukan toleransi. Hal ini tentu sangat baik, namun ketika toleransi tersebut berlebihan, akhirnya kedisiplinan itu berkurang dan waktu menjadi hal yang tak berharga lagi.

Transportasi Umum atau Pribadi?

Transportasi pribadi adalah favorit kebanyakan masyarakat Indonesia, hal yang kemudian berdampak negatif bagi lalu lintas, utamanya di Jakarta. Ada banyak alasan mengapa orang Indonesia enggan menggunakan transportasi massal, seperti kebiasaan penumpang yang merokok, supir yang ugal-ugalan, hingga pelecehan seksual.

Selain hal tersebut, alat transportasi juga menjadi semacam status sosial bagi masyarakat Indonesia. Kemudahan untuk memiliki kendaraan serta pajak yang murah membuat mereka berlomba-lomba untuk “mengoleksi” kendaraan, hal yang dipercaya bisa mentasbihkan status sosialnya.

Transportasi Jepang

Transportasi Jepang

Sebaliknya, masyarakat Jepang sangat menyenangi untuk menggunakan transportasi massal. Mereka bisa berhemat lewat cara ini yang sekaligus membantu perekenomian Negaranya sendiri. Minat yang besar dalam menggunakan transportasi umum tersebut tidak terlepas dari fasilitas yang nyaman, bersih, dan aman.

Sementara itu, keinginan untuk memiliki kendaraan pribadi bukanlah prioritas bagi masyarakat Jepang. Selain dikarenakan harga dan pajak mobil yang terbilang tinggi, mereka juga sulit untuk mengukur waktu perjalanan jika menggunakan kendaraan pribadi mengingt Jepang adalah negara yang cukup padat penduduk.

Berbeda jika mereka menggunakan transportasi umum yang sudah dilengkapi dengan jam keberangkatan dan jam tiba secara tepat, hal yang membuat mereka lebih mudah dalam mengukur waktu.

Kuliner Mana yang Paling Enak?

Jepang adalah Negara yang terkenal dengan menu makanan yang segar serta mempertahankan cita rasa aslinya, di mana orang Indonesia menyebutnya sebagai makanan mentah. Namun di Jepang, makanan seperti itu dianggap sebagai makanan yang sehat.

Hanya saja, aspek halal adalah hal yang sangat sulit ditemui dalam makanan Jepang, mengingat mayoritas masyarakat Indonesia adalah penganut agama Islam. Ya, makanan-makanan di Jepang didominasi dengan komposisi daging babi.

Kuliner Jepang

Kuliner Jepang

Perilaku saat makan antar kedua Negara ini juga sangat berbeda. Jika di Indonesia setiap anak diajarkan agar tidak mengeluarkan suara saat makan, hal ini justru berkebalikan dengan budaya Jepang. Ketika orang Jepang makan Ramen (mie khas Jepang), mereka diajarkan untuk mengeluarkan suara! Pasalnya, suara yang ditimbulkan tersebut merupakan indikasi akan rasa suka terhadap makanan tersebut yang sekaligus menunjukkan rasa hormat kepada pembuat makanannya.

Untuk minuman, masyarakat Jepang memiliki budaya minum teh dan sake. Hal ini masuk dalam kategori budaya karena ada aturan-aturan tertentu yang harus dilakukan.

Misalnya saat minum teh, mereka harus duduk bersimpuh layaknya sinden Jawa ketika menyanyi. Sebelum teh diteguk, cangkir harus diletakkan di telapak tangan kiri kemudian diputar dengan tangan kanan sekitar 180 derajat. Jika kamu melewatkan hal ini, maka kamu akan dianggap tidak sopan.

Begitu juga dengan kebiasaan minum sake yang sudah menjadi budaya bagi masyarakat Jepang. Hal ini sering dilakukan pada malam hari atau sepulang kerja.

Saat seseorang menuang sake, ia juga harus menuang untuk yang lainnya dan mengatakan “kampai” sebelum yang lainnya bisa minum. Saat ada gelas yang kosong, maka akan ada orang yang segera mengisinya. Di Indonesia, kebiasaan seperti ini juga sering terlihat di kehidupan masyarakat pedesaan dengan minuman bernama tuak atau arak.

Selain hal-hal kontras seperti di atas, masih ada perbedaan lain antara budaya Indonesia dan jepang, seperti:

  • Budaya membaca yang sangat tinggi di Jepang karena harga buku yang murah. Hal yang bertolak belakang di Indonesia mengingat tingginya pajak buku.
  • Di Indonesia ada istilah “kumpul kebo” di mana pasangan yang belum menikah tinggal satu rumah, dan hal ini sangat dilarang. Sebaliknya, masyarakat Jepang tidak mengenal istilah “kumpul kebo” dan mereka mentolerir jika orang yang belum menikah hidup dalam satu atap.
  • Di Jepang, mereka tidak mengenal budaya cium tangan atau cium pipi sebagai bentuk penghormatan. Apa yang mereka lakukan adalah dengan membungkukkan badan.
  • Nah, itulah sedikit perbandingan antara budaya Indonesia vs Jepang. Terlepas dari perbedaan yang sangat kontras, tidak ada yang lebih unggul atau yang lebih baik, karena budaya adalah pola hidup yang disesuaikan dengan lingkungan dan kebutuhan dari masing-masing pelakunya.

{ 0 comments… add one }

Leave a Comment