≡ Menu

Perbedaan Mendasar Budaya Indonesia vs Korea Selatan

Korea Selatan adalah negara yang sangat populer di Indonesia, khususnya bagi para remaja. Musik, drama, hingga fashion Korea diadapatsi ke dalam keseharian mereka, membuat munculnya istilah “demam Korea”.

Fenomena inilah yang membuat banyak generasi milenial tertarik untuk mengenal budaya Korea lebih jauh. Terlepas dari segala kontroversinya, budaya Korea dianggap memiliki keunikan tersendiri.

Baca juga: Artis-artis tercantik di Korea Selatan

Perbedaan Budaya Indonesia vs Korea

Kebudayaan merupakan sistem pengetahuan yang terdiri dari ide-ide atau gagasan yang dimiliki oleh manusia, di mana dalam kehidupan sehari-hari hal tersebut bersifat abstrak.

Sementara itu, perwujudan dari budaya merupakan hal yang bersifat nyata, baik itu perilaku, bahasa, religi, organisasi sosial, dan lain sebagainya yang bertujuan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupannya. Nah, di sinilah awal munculnya perbedaan budaya dari setiap negara, tergantung dari lingkungan dan kebutuhan dari masyaraktnya sendiri.

Budaya Korea Selatan

Budaya Korea Selatan

Secara sosial, budaya Indonesia dan Korea tidak jauh berbeda. Orang-orang Korea juga terkenal ramah layaknya orang Indonesia. Namun secara warisan budaya, Korea terbilang miskin, di mana suku bangsanya tergolong sangat umum. Hal ini tentu berkebalikan dengan Indonesia yang memiliki banyak budaya dari ratusan suku bangsa.

Hanya saja, bangsa Korea memiliki fokus yang amat besar terhadap pop culture, hal yang bahkan masuk dalam program pemerintah. Segmen mereka juga sangat jelas: Remaja. Tak heran jika hal-hal yang bersifat entertainment dari Negara ini bisa dengan mudahnya dilahap habis oleh masyarakat Indonesia.

Budaya Indonesia

Budaya Indonesia

Terlepas dari berbagai perubahan yang saat ini terlihat, orisinalitas kedua Negara masih tidak bisa dihilangkan. Budaya yang sudah mengakar dari nenek moyang mereka masih sangat mudah dijumpai, mulai dari perihal agama hingga perilaku sosial.

Nah, berikut ini kami rampung berbagai perbedaan yang menonjol antara budaya Indonesia dengan Korea.

Agama di Korea Selatan

Agama termasuk sebagai budaya, di mana perkembangan zaman membuat budaya ikut dipengaruhi oleh praktik agama. Indonesia adalah Negara multi agama dengan 6 agama yang mendapat pengakuan dan Islam menjadi pilihan mayoritas. Bahkan Negara mengharuskan setiap warga negaranya untuk memiliki agama, yang mana sudah diatur lewat undang-undang.

Keagamaan di Korea Selatan

Keagamaan di Korea Selatan

Di Korea Selatan, di mana tradisi Konfusianisme sudah sangat mendominasi pemikiran mereka, agama bukanlah sesuatu yang penting. Terbukti sekitar 46,5% populasi Korea memilih untuk tidak bergama. Dalam artian lain, agama bukanlah sebuah tekanan bagi masyarakat Korea.

Menariknya, kita bisa menemukan ratusan agama baru di Korea. Agama-agama yang muncul tersebut merupakan penggabungan dari berbagai sistem kepercayaan yang berbeda. Akhirnya terjadi perbedaan agama yang samar. Hal inilah yang kemudian membuat banyak masyarakat Korea merasa skeptis terhadap agama dan lebih memilih untuk menjadi ateis.

Agama di Korea Selatan

Agama di Korea Selatan

Kembali lagi ke alasan dasar munculnya sebuah budaya adalah untuk mendukung keberlangsungan hidup, masyarakat Korea merasa bahwa agama tak lagi berpengaruh dalam kehidupan mereka. Sementara orang Indonesia, hal ini masih sangat penting dan berpengaruh dalam kehidupannya sehingga agama masih menjadi bagian nomor satu dalam segala aspek kehidupan.

Perbedaan Etos Kerja

Etos kerja dari orang Korea tidak jauh berbeda dengan orang Jepang. Mereka sangat fokus dan total dalam bekerja, hal yang bisa kita lihat dalam dunia hiburannya. Musik dan serial drama Korea bisa melejit tentu karena digarap secara total, dan tidak asal-asalan seperti apa yang dilihat di industri hiburan tanah air.

Pop culture di Korea Selatan

Pop culture di Korea Selatan

Kegigihan warga Korea juga patut mendapatkan apresiasi, di mana mereka saling bahu membahu untuk membangun dan mengantarkan negaranya keluar dari keterpurukan. Masyarakat Korea sudah terbiasa bekerja selama 14 hingga 18 jam sehari, hal yang sangat sulit ditemukan di Indonesia.

Etos kerja yang begitu tinggi dari masyarakat Korea tidak terlepas dari ajaran Konfusius yang ditanamkan oleh pemerintahnya, di mana terdapat keyakinan bahwa orang harus bekerja demi kebaikan kelompok dan negaranya. Filsafat inilah yang kemudian memengaruhi etos kerja mereka.

Etos kerja Korea Selatan

Etos kerja Korea Selatan

Tanpa bermaksud untuk menjelek-jelekkan negara sendiri, harus kita akui bahwa etos kerja kita masih sangat jauh dari warga Korea. Penghargaan terhadap waktu masih sulit untuk kita terapkan. Akhirnya, menunggu atau ditunggu adalah hal yang biasa kita lihat, bahkan tergolong dibiarkan begitu saja.

Ada Apa dengan Operasi Plastik di Korea Selatan?

Secara sosial, masyarakat Korea dibelenggu oleh tirani untuk selalu tampil sesempurna mungkin, hal yang kemudian membuat mereka dikejar oleh standar hidup yang begitu tinggi. Akhirnya, penampilan fisik menjadi prioritas nomor satu. Seiring dengan perkembangan teknologi di negara mereka yang semakin maju, maka operasi plastik akhirnya menjadi sebuah budaya yang mengakar.

Baca juga: Beginilah perawatan wajah ala Korea

Status sosial memang adalah hal yang penting bagi manusia, dan hal tersebut bukanlah kekurangan manusia, melainkan sudah menjadi sifat dasarnya. Namun ketika masyarakat Indonesia lebih memilih materi sebagai ajang untuk menunjukkan status sosial, masyarakat Korea justru lebih memilih operasi plastik sebagai hal yang realistis.

Terlepas dari kontroversinya, budaya operasi plastik jusru mendatangkan keuntungan tersendiri bagi dunia hiburan Korea. Terbukti, bagaimana selebritis di negara ini bisa menguasai panggung hiburan di Asia. Bagian yang disayangkan adalah ketika masyarakat sipil juga ikut mengadopsi hal tersebut, sehingga orisinalitas bangsa Korea yang bermata sipit itu sudah terkikis. Ya, bangsa Korea Selatan kini mengadopsi budaya yang seragam.

Sistem Pendidikan

Secara praktis, pendidikan tidak bisa dipisahkan dengan nilai-nilai budaya. Korea sendiri terkenal sebagai negara yang memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia, berada di jajaran atas bersama Finlandia. Sistem sekolah moderennya tidak jauh berbeda dengan Indonesia, 6 tahun untuk sekolah dasar, 3 tahun untuk SMP, dan 3 tahun untuk SMA. Hanya saja, tingkat kedisiplinan pendidikan Korea sangatlah tinggi dibanding di Indonesia.

SMA di Korea Selatan

SMA di Korea Selatan

Lagi-lagi, pengaruh Konfusianisme di Korea Selatan yang sudah ditanamkan sejak lama membuat siswa mereka sangat terobsesi untuk meraih nilai yang tinggi di sekolah. Hal itu bisa terlihat dengan banyaknya siswa-siswa asal Korea yang meraih ranking tinggi pada berbagai tes komparatif berskala internasional. Begitu pula dalam urusan tes analisa dan berpikir kritis, negara ini selalu menempati urutan teratas.

Sayangnya, hal tersebut kemudian membuat siswa-siswa di Korea tidak memiliki banyak waktu karena terobsesi untuk bisa berprestasi secara akademik. Mereka diwajibkan untuk terus belajar sepanjang tahun yang tak terisi oleh liburan panjang. Akhirnya, hasrat untuk selalu ingin berprestasi dan menonjol di sekolah sudah terlihat sejak pendidikan usia dini.

Pendidikan usia dini Korea Selatan

Pendidikan usia dini Korea Selatan

Di Indonesia, hal seperti di atas juga masih sering terlihat, namun agak sedikit longgar dengan berbagai fleksibilitasnya. Sekalipun kurikulum di Indonesia terbilang ketat, namun siswanya masih diberikan sejumlah opsi, seperti les yang bisa diambil atau tidak. Belum lagi kalender pendidikan yang memasukkan liburan panjang tentu cukup membantu siswanya agar merasa lebih santai.

***

Nah, itulah 4 perbedaan mendasar dari budaya Indonesia vs Korea. Terlepas dari kamu setuju atau tidak, namun budaya merupakan hasil dari karya seni manusia yang lama kelaman membentuk kebiasaan dan diikuti oleh generasi berikutnya. Dan, hal inilah yang kami lihat terjadi di Indonesia dan Korea.

{ 0 comments… add one }

Leave a Comment