≡ Menu

Nikah Dulu, Cinta Belakangan: Panduan Untuk yang Dijodohkan

Ahli cinta, Hellen Chen berpendapat bahwa manusia terlalu lama menghabiskan watu untuk pacaran. Dia mengatakan, jika kamu ingin segera menikah, maka menikahlah, dan biarkan bunga-bunga cinta datang belakangan. Pacaran adalah resep untuk patah hati, dan pernikahan seharusnya datang lebih awal.

Helen mengatakan, dia sering melihat pasangan yang berpacaran selama satu, dua, tiga, bahkan lima tahun, dan akhirnya putus. Jika kamu terlalu fokus pada pacaran, maka kesempatan kamu patah hati lebih besar.

Apa yang dibutuhkan dari berpasangan adalah kebahagiaan dan kebebasaan.

Ketika kamu memeiliki seseorang untuk dijadikan tempat pulang, kamu akan merasakan kebebasaan yang tidak akan kamu dapatkan sebelumnya. Pada seorang wanita, hal ini menjadi tembok jika ia masih memiliki batasan-batasan waktu dan tempat seperti halnya pacaran.

Jika kamu menikah, maka masalah ini terpecahkan.

pernikahan yang dijodohkan

Perkenalan

Berhati-hatilah, menurut Chen, menikah sebelum berpacaran adalah hal yang aneh, ini diluar dari kebiasaan yang sudah ada. Alasannya adalah, bagaimana kamu menikah jika berpacaran saja belum?

Intinya, pesannya sudah jelas: Hentikan ketakutan untuk kehilangan karena tidak ada komitmen. Hentikan menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk seseorang yang kamu sendiri tidak yakin apakah akan berlanjut atau tidak…

Hentikan ini, dan langsunglah berkomitmen.

Pilihan yang Paradox

Menurut wikipedia, arti paradaox adalah sebuah pernyataan yang betul atau sekelompok pernyataan yang menuju ke sebuah kontradiksi atau ke sebuah situasi yang berlawanan dengan intuisi.

Hanya karena kamu/dia tahu ada potensi pasangan lain yang lebih cocok dengan karakteristik kamu/dia, kenapa kamu/dia harus susah-susah menerima hubungan yang penuh ketidak cocokan ini.

Namun, menurut Chen, melengkapi semua ketidak cocokan ini adalah hal yang harus kamu/dia lakukan. Inilah alasan kenapa manusia harus berpasangan.

Hasilnya bisa dirasakan, kamu/dia menikah sekarang dan mulai membangun “rumah” bagi masing-masing, atau melanjutkan hubungan (pacaran) dan berakhir dengan harapan untuk membangun “rumah”.

Pernikahan Membutuhkan Komitmen

Seseorang yang mengharapkan hal yang spesifik harus berkomitmen untuk mendapatkan itu, baik itu yang kamu harapkan berupa benda fisik atau hal seperti pernikahan sekali pun.

Jika pernikahan, ini bukan sekedar pernikahan. Contoh, jika kamu ingin melakukan hubungan sex tanpa adanya hubungan khusus, kamu bisa mendapatkannya, tetapi kamu tetap berkorban: kamu memiliki resiko untuk tidak mendapatkan kebahagiaan selanjutnya.

Jika kamu menikah, kamu bisa mendapatkan itu juga. Tetapi dengan perasaan yang lebih aman, dan menghindarkan dari resiko-resiko yang harus kamu hadapi.

Intinya, kamu harus berani berkomitmen terlebih dahulu, dan biarkan cinta datang belakangan.

Pernikahan yang Dijodohkan

Jika kamu mengharapkan komitmen, hubungan yang bersifat long-trem, maka mungkin inilah satu-satunya jalan.

Sebuah survey menyebutkan, bahwa 55% pernikahan terjadi karena dijodohkan, dan 90% diantaranya terjadi di Negara India. Di negara seperti Amerika Serikat, yang memiliki kebebasan yang tinggi, justru tingkat perceraiannya juga tinggi, 50%.

Dan tebak, berapa persen perceraian yang diakibatkan karena perjodohan? hanya 4%.

Tetapi lebih karena ekspektasi mereka yang berbeda seperti orang-orang yang menikah dengan cara bukan dijodohkan.

Menariknya, itu bukan karena orang-orang bahagia karena adanya aturan-aturan pernikahan setelah dijodohkan, atau rasa bahagia seperti yang dirasakan mereka yang memiliki pernikahan bukan dijodohkan..

Mereka yang dijodohkan hanya berekspektasi untuk menjalankan hubungan yang sudah ada saja, tanpa mengharapkan lebih. Tetapi kenyataannya, mereka mendapatkan ekspektasi lebih, dan cinta mulai timbuh.

Kamu Menolak Ini

Ini bukan kesalahan kamu jika menolak perjodohan. Budaya dan cerita-cerita fiksi memang bercerita seperti itu. Kita seperti tertidur dibawah cerita-cerita romantis seperti FTV, putri salju, atau cinderella. Dan kita mengharapkan hal romantis seperti itu terjadi pada diri kita.

Faktanya, hal romantis seperti cerita itu mungkin saja terjadi, tetapi kesempatannya sangat kecil.

Nah, Chen sendiri menemukan resep rahasia pernikahan: Bayangkan jika hal-hal bagus bukan hidangan pembuka, tetapi sajian utama. Pikirkan bagaimana berbedanya hubungan romantis berpacaran kamu jika kamu menikmati semua hal-hal bagus tersebut tanpa harus memikirkan “akan bagaimana selanjutnya”, karena kamu memang sudah berada di zona yang kamu pikirkan “akan bagaimana selanjutnya”.

{ 1 comment… add one }
  • Dyan Monday, 2 November 2015, 18:59

    Selamat malam, apakah saya boleh tahu kapan artikel ini di posting? Saya ingin mensitasi beberapa informasi dari artikel ini untuk keperluan tugas akhir.. jika berkenan mohon dibalas ke email saya, terima kasih banyak 🙂

Leave a Comment